Tuesday, December 30, 2008

ASAL USUL BAHASA

Amrin Batubara
ambara4@yahoo.com

A. Pendahuluan

Ketika seorang anak manusia masih bayi, ia akan menangis untuk menyatakan sesuatu kepada orang yang paling dekat dengan dirinya. Tangisan itu lama-kelamaan berganti rupa menjadi arus bunyi yang bermakna dan akan bertambah lengkap dan rumit sampai manusia meninggalkan dunia yang fana ini. Itulah bahasa, sehingga pada umumnya disimpulkan bahwa bahasa selalu ada bersama dengan manusia. Simpulan ini bukan tanpa dasar. Dasar itu adalah bahasa merupakan sarana komunikasi antarmanusia.
Kepak sayap induk ayam saat burung elang terbang sambil mengintip untuk memangsa anak ayam, merupakan suatu simbol agar anak-anak ayam itu berlarian di bawah sayap induknya, juga merupakan bahasa, khususnya untuk ayam. Simbol yang diberikan oleh induk ayam tetap tidak berkembang dari waktu ke waktu. Jika dibandingkan dengan bahasa manusia jauh lebih lengkap untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan daripada bahasa hewan atau simbol yang lain.
Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri. Mereka hidup berkelompok dan saling ketergantungan satu sama lainnya. Untuk dapat hidup berkelompok, tentunya mereka terdapat saling pengertian karena adanya kepentingan yang mengikatnya. Untuk kepentingan itu dukungan alat komunikasi (bahasa) memegang peranan penting.
Bahasa sebagai alat penyampai pesan mengikat kelompok untuk saling pengertian dalam rangka hidup bersama, bergerak, dan mempertahankan diri dalam beraktivitas. Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa bahasa seumur dengan keberadaan manusia itu sendiri. Hanya bagaimana bentuk bahasa itu pada awalnya dan bagaimana asal-usul bahasa itu.
1 Dengan hadirnya kebudayaan yang sesungguhnya (kebudayaan yang sangat primitif) memberi sugesti bahwa seharusnya sudah ada bahasa pada waktu itu, karena bahasa merupakan prasyarat bagi pewarisan tradisional dan pertumbuhan kebudayaan. Awal mula pertumbuhan bahasa mungkin sudah ada pada hominid, sedang bahasa yang sesungguhnya baru timbul lebih kemudian.
Berdasarkn uraian tersebut, dalam makalah ini akan diuraian berturut-turut: Teori Tradisional tentang Asal Mula Timbulnya Bahasa; Asal-Usul Bahasa; Pendekatan Modern Tentang Asal Usul Bahasa; dan Sejarah Perkembangan Bahasa di Dunia.

B. Uraian
1. Beberapa Teori Tradisional Tentang Awal Mula Timbulnya Bahasa

a. Teori Tekanan Sosial

Teori ini dikemukakan oleh Adam Smith (dalam Keraf, 1996:2). Teori ini bertolak dari anggapan bahwa bahasa manusia timbul karena manusia primitif dihadapkan pada kebutuhan untuk saling memahami. Apabila mereka ingin meyatakan objek tertentu, maka mereka terdorong untuk mengucapkan bunyi-bunyi tertentu yang akhirnya mereka mengenal sebagai tanda. Demikian pula, apabila pengalaman mereka bertambah mereka berusaha akan menyampaikan pengalaman baru itu dengan bunyi-bunyi tertentu pula. Tutur merupakan produk tekanan sosial, bukan hasil dari perkembangan manusia itu sendiri.

b. Teori Onomatopetik atau Ekoik

Teori ini disebut juga imitasi bunyi atau gema. Teori mengatakan bahwa objek-objek diberi nama sesuai dengan bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh objek-objek itu. Objek yang dimaksud adalah bunyi binatang atau peristiwa alam. Manusia berusaha meniru bunyi anjing, ayam, atau desis angin, debur gelombang, dan sebagainya akan menyebut objek-objek atau perbuatannya dengan bunyi itu.
Whitney (1874) mengatakan bahwa dalam setiap tahap pertumbuhan bahasa, banyak kata baru timbul dengan cara ini. Kata-kata mulai timbul pada anak-anak yang berusaha meniru bunyi kereta api bunyi mobil dan sebagainya. Sementara itu, Lefevre (1894) mengemukakan bahwa binatang-binatang memiliki dua elemen bahasa yang penting yaitu: teriakan refleks dan spontan karena emosi atau kebutuhan, dan terikan sukarela untuk memberi peringatan, menyatakan ancaman atau panggilan.
Dari kedua jenis ujaran ini, manusia mengembangkan bermacam-macam bunyii dengan mempergunakan variasi tekanan, reduplikasi, dan intonasi berkat mekanisme ujaran yang lebih sempurna, dan otak yang sudah lebih berkembang.
Teori ini ditolak oleh penentangnya bahwa tidak logis manusia yang tinggi derajatnya meniru-niru bunyi dari makhluk yang lebih rendah derajatnya. Demikian pula Sapir (1949) menentang teori ini, mengatakan bahwa esensi bahasa sangat sedikit bertalian dengan imitasi yaitu sesudah manusia mempelajari seni ujaran dan telah mahir menggunakannya.
Walaupun ada kritik dan sangkalan dari beberapa sarjana atas teori ini, dalam kenyataannya memang ada unsur-unsur bahasa yang diciptakan manusia karena usaha meniru-niru bunyi binatang atau gejala alam sekitarnya. Bila manusia meniru-niru makhluk rendahan, tidak berarti ia lebih rendah daripada makhluk rendahan itu. Yang penting dalam peristiwa ini suatu bunyi yang mungkin dihasilkan oleh suatu makhluk tanpa makna, ditiru dan dipakai oleh manusia untuk merujuk makhluk itu sendiri atau perbuatannya. Maknanya justeru diberi oleh manusia yang meniru bunyi itu, dan bukan oleh makhluknya sendiri.

c. Teori Intejeksi

Teori ini bertolak dari suatu asumsi bahwa bahasa lahir dari ujaran-ujaran instinktif karena tekanan-tekanan batin, karena perasaan yang mendalam, dan karena rasa sakit yang dialami manusia.
Teori ini banyak yang menentang, seperti Sapir (1949), bahwa interjeksi tidak bersifat simbolik, interjeksi tidak menyatakan emosi tapi cuma luapan emosi atau merupakan kulit dari emosi. Sementara itu, Jespersen (1964) juga menolak teori ini, meyatakan bahwa interjeksi sangat spontan, dan sering mengandung bunyi-bunyi yang tidak digunakan dalam bahasa itu sendiri, misalnya vokal tak bersuara, tarikan nafas, bunyi klik, dan sebagainya. Di samping itu banyak interjesi sudah dikonvensikan sehingga dipelajari sebagai kata-kata biasa.

d. Teori Nativistik atau Tipe Fonetik

Teori ini diajukan oleh Muller (1891) tidak bersifat imitasi atau interjeksi. Teorinya didasarkan pada konsep mengenai akar yang lebih bersifat tipe fonetik. Sebagai dasar teorinya yaitu bahwa tiap barang akan mengeluarkan bunyi kalau dipukul, tiap barang memiliki bunyi yang khas. Karena bunyi-bunyi yang khas itu lalu manusia memberikan respon atau bunyi-bunyi tersebut.

e. Teori Yo-He-Ho

Teori yang lain disebut Yo-he-ho theory . Teori ini menyimpulkan bahwa bahasa pertama lahir dalam suatu kegiatan sosial. Sekelompok orang primitif dahulu bekerja sama. Kita pun mengalami kerja serupa misalnya, sewaktu mengangkat kayu besar secara spontan bersama mengeluarkan ucapan-ucapan tertentu karena terdorong gerakan otot. Demikian juga orang primitif jaman terdahulu, sewaktu bekerja tadi, pita suara mereka bergetar lalu melahirkan ucapan-ucapan khusus untuk setiap tindakan. Ucapan-ucapan tadi lalu menjadi nama untuk pekerjaan itu seperti heave (angkat), rest (diam) dan sebagainya.

f. Teori Isyarat

Teori lain disebut Gesture theory yang mengatkan bahwa isyarat mendahului ujaran. Para pendukung teori ini menunjukkan penggunaan isyarat oleh berbagai jenis binatang, dan juga sistem isyarat yang dipakai oleh orang-orang primitif. Salah satu contoh yaitu bahasa isyarat yang dipakai oleh suku Indian di Amerika Utara, sewaktu berkomunikasi dengan suku-suku yang tidak sebahasa.
Jadi, menurut teori ini bahasa lahir dari isyarat-isyarat yang bermakna. Menurut Darwin walaupun bahasa itu bisa dipergunakan dalam berkomunikasi, dalam beberapa hal isyarat itu tidak dapat dipakai, umpamanya orang tidak dapat berisyarat di tempat gelap atau kedua tangan sibuk memegang sesuatu, atau kalau lawan berkomunikasi tidak melihat isyarat.
Wundt (1907) menyatakan bahwa bahasa isyarat adalah bahasa primitfe, tetapi ia sama sekali tidak menegaskan bahwa bahasa ujaran berkembang dari bahasa isyarat. Ia menganggap keduanya dipakai bersama-sama, tetapi kemudian bahasa ujaran memperoleh status yang lebih tetap karena fleksibilitasnya, dan kemampuannya untuk mengadakan abstraksi.

g. Teori Permainan Vokal

Jespersen 1964 (dalam Keraf, 1996) menyimpulkan bahwa ‘bahasa primitif’ menyerupai bahasa anak-anak, sebelum ia merangkaikan bahasanya menurut pola bahasa orang-orang dewasa. Bahasa manusia pada mulanya berujud dengungan dan senandung yang tak berkeputusan yang tidak mengungkapkan pikiran apa pun, sama seperti suara, senandung orang-orang tua untuk membuai dan menyenangkan seorang bayi. Bahasa timbul sebagai permainan vokal, dan organ ujaran mula-mula dilatih dalam permainan untuk mengisi waktu senggang ini.
Bahasa mulai timbul dalam ujud ungkapan-ungkapan yang berbentuk setengah musik yang tak dapat dianalisa. Dalam hal ini Jespersen memahami bahwa bahasa manusia mula-mula lebih puitis dalam permainan yang riang gembira dalam cinta remaja yang ceria, dalam suatu impian yang romantic. Teori ini berusaha untuk menjembatangi kesenggangan antara vokalisasi emosional dan ideasional.

Berdasarkan beberapa teori tersebut, tahun 1966 masyarakat Linguistik Perancis melarang mendiskusikan asal bahasa karena itu hanya spekulasi yang ternyata tiada artinya. Pada peminat studi bahasa tentunya haruslah tanggap kepada teori-teori ini, walaupun sulit ditelusuri secara ilmiah.
Penyelidikan antropologi telah membuktikan bahwa kebanyakan kebudayaan primitif meyakini keterlibatan Tuhan, dewa dalam permulaan sejarah berbahasa. Tuhanlah yang mengajari Nabi Adam nama-nama yang ada di dunia ini. Penyelidikan antropologi tersebut sejalan dengan pemahaman Islam. Allah berfirman dalam surah Al Baqarah (2): 31-32 sebagai berikut:

Terjemahnya: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepadanya lalu berfirman : “sebutkanlah kepadaku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar !” (QS, 2:31)
Selanjutnya , ayat 32 sebagai berikut

Terjemahnya : Mereka menjawab “Maha Suci Engkau tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Engkau telah ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana” (QS, 2:32).

Lanjut penyelidikan antropologi menyatakan bahwa manusia diciptakan secara simultan, dan pada penciptaan ini pula dikaruniai ujaran sebagai anugrah Ilahi, dan di Sorga Tuhan berdialog dengan Nabi Adam dalam bahasa Yahudi. Sebelum pertengahan abad ke-18 teori-teori asal bahasa ini dikategorikan sebagai divine origin (berdasarkan kedewaan/kepercayaan).
Abad ke -17 Andrews Kemke, seorang ahli filologi dari Swedia menyatakan di Surga Tuhan berbicara dalam bahasa Swedia, Nabi Adam berbahasa Denmark, sedangkan naga berbahasa Perancis. Sebelumnya seorang Belanda Goropius Becanus berteori bahwa bahasa di Surga adalah bahasa Belanda.
Abad yang sama (ke -17), raja Mesir Psammetichus ingin mengadakan penyelidikan tentang bahasa pertama. Menurut sang raja kalau bayi dibiarkan ia akan tumbuh dan berbicara bahasa asal. Untuk penyelidikan diambillah dua bayi dari keluarga biasa (sampel acak) dan diserahkannya kepada seorang gembala untuk dirawatnya. Gembala dilarang berbicara sepatah kata pun kepada bayi itu. Setelah sang bayi berusia dua tahun, mereka secara spontan menyambut si gembala tadi dengan berkata becos. Segera si gembala menghadap sang raja lalu menceritakan keadaan bayi itu. Raja segera menyelidikinya dan berkonsultasi dengan para penasihatnya. Menurut mereka becos berarti roti dalam bahasa Phrygia, dan inilah bahasa pertama. Cerita ini diturunkan kepada orang-orang Mesir kuno, hingga menurut mereka bahasa Mesirlah yang pertama.
Kaisar Cina pun Tien-tsu, anak Tuhan, katanya mengajarkan bahasa pertama pada manusia. Ada juga versi lain seekor kura-kura diutus Tuhan membawa bahasa (tulisan) ke orang-orang Cina. Di Jepan pun bahasa pertama dihubung-hubungkan dengan Tuhan mereka Amaterasu. Orang-orang Babilonia pun percaya bahwa bahasa pertama berasal dari Tuhan mereka, Nabi; sedang Brahmana mengajarkan tulis-menulis kepada ras Hindu, dan masih banyak cerita-cerita yang bernada sama dalam berbagai kebudayaan dahulu.
Bagian akhir abad ke-18 spekulasi asal-usul bahasa berpindah dari wawasan keagamaan, mistik dan tahyul ke alam baru yang disebut dengan fase organis. Pertama dengan terbitnya Uber den Ursprung der Spraache (On the Origin of Language), tahun 1772 karya Johann Gottfried Von Herder (1744-1803) mengemukakan bahwa tidaklah tepat mengatakan bahasa sebagai anugrah Ilahi. Menurut pendapatnya “bahasa lahir karena dorongan manusia untuk mencoba-coba berpikir. Bahasa adalah akibat hentakan yang secara insting seperti halnya janin dalam proses kelahiran. Teori ini bersamaan dengan mulai timbulnya teori evolusi manusia yang diprakarsai oleh Immanuel Kant (1724-1804) yang kemudia disusul oleh Charles Darwin.

2. Asal-Usul Bahasa

Diduga makhluk-makhluk yang mirip manusia dan menggunakan alat pemotong terbuat dari batu ini namun masih seperti kera “berkomunikasi“ secara naluriah , dengan bertukar- tanda alamiah berupa suara (gerutan, geraman, pekikan), postur dan gerakan tubuh, termasuk gerakan tangan dan lengan, sedikit lebih maju dari “komunikasi“ hewan primata masa kini. Mereka tidak menggunakan bahasa lisan yang membutuhkan penciptaan berbagai suara yang subtil. Salah satu sebabnya, kotak suata mereka identik dengan kotak suara kera, simpanse, dan hewan primata lainnya yang dikenal sekarang ini, yang tidak mungkin mereka mengkombinasikan berbagai suara untuk membentuk bahasa manusia. Pendeknya, cara komunikasi mereka sangat primitif dibandingkan dengan komunikasi manusia.
Banyak makhluk yang mirip manusia bertahan untuk beberapa waktu dengan berburu dan mengumpulkan makanan, namun kira-kira 35.000 tahun yang lalu akhirnya punah secara misterius. Sementara itu, “manusia modern“ (homo sapiens), nenek moyang manusia, muncul secara misterius pula antara 90.000 dan 40.000 tahun lalu, di Eropa dan Timur, sebelumnya dihuni generasi terakhir hominid. Makhluk baru ini akhirnya menyebar ke berbagai bagian dunia, termasuk Asia dan Amerika.
Dulu nenek moyang yang juga disebut Cro magnon ini tinggal di gua-gua. Mereka punya sosok seperti manusia, hanya saja lebih berotot dan lebih tegap, mungkin karena hidup mereka penuh semangat dan makan makanan yang lebih sehat. Ketika mereka belum mampu bserbahasa verbal, mereka berkomunikasi lewat gambar-gambar yang mereka buat pada tulang, tanduk, cadas, dan dinding gua yang banyak ditemukan di Spanyol dan Prancis Selatan. Mereka menggambarkan bison, rusa kutub, dan mamalia lainnya yang mereka buru. Inilah sarana pertama yang dikenal manusia untuk merekam informasi.
Kemudian antara 40.000 dan 35.000 tahun lalu Cro Magnon mulai menggunakan bahasa lisan. Ini dimungkingkan karena mereka punya struktur tengkorak, lidah, dan kotak suara yang mirip dengan yang dimiliki sekarang. Kemampuan berbahasa inilah yang membuat mereka terus bertahan hingga kini, tidak seperti makhluk mirip manusia sebelumnya yang musnah.

3. Pendekatan Modern Tentang Asal-Usul Bahasa

Manusia diciptakan dengan perlengkapan fisik secara sempurna hingga memungkinkan terlahirnya ujaran. Namun ujaran bukanlah karena kerja organ-organ fisik tadi. Dalam proses ujaran, faktor-faktor psikologis pun terlibat, sebagai contoh dibayangkan sebuah telaga jernih yang dikelilingi pepohonan rindang yang dimukimi burung-burung dan margasatwa lainnya. Bagi seseorang, telaga tadi mungkin berarti sesuatu yang membahayakan, bila menenggelamkan mematikan. Bagi yang lainnya mungkin telaga tadi bisa jadi sumber kehidupan anak isterinya. Mungkin ikannya banyak besar-besar. Bagi yang lainnya barangkali merupakan sumber ilham, bisa dijadikan tempat isterahat, melemaskan otot sambil mengharapkan kejatuhan inspirasi dari langit. Dalam batiniah ketiga orang tadi ternyata ada kesan psikologis yang berbeda dan bervariasi. Kesan-kesan ini mesti diucapkan dengan ujaran. Dengan perkataan lain kesan-kesan tadi mesti diungkapkan dengan simbol vokal, hingga terucapkan kata-kata, umpamanya, bahaya, ngeri, dalam, dingin, menenggelamkan, hanyut, arus, dan sebagainya.
Fred West mengemukakan bahwa ,” ujar seperti halnya bahasa, adalah hasil kemampuan manusia untuk melihat gejala-gejala sebagai simbol-simbol dan keinginannya untuk mengungkapkan simbol-simbol itu (1975:11).
Kini para antropologi menyimpulkan bahwa manusia dan bahasa berkembang bersama. Manusia ada di bumi ini kurang lebih sudah satu juta tahun lamanya. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya menjadi homo sapiens juga mempengaruhi perkembangan bahasanya. Perkembangan otaknya mengubah dia dari agak manusia menjadi manusia sesungguhnya. Mereka kini mempunyai kemampuan, mulai menemukan dan mempergunakan alat-alat, dan mulailah dia berbicara.
Pendapat lain yang mengatakan bahwa perkembangan bahasa bayi menjadi orang dewasa. Otto Jespersen (1860-1943) melihat adanya persamaan perkembangan antara bahasa bayi dan manusia pertama dahulu. Bahasa manusia pertama hampir tak punya arti, seperti lagu saja sebagaimana ucapan-ucapan bayi lama kelamaan ucapan-ucapan tadi berkembang menuju kesempurnaan.
Dalam Combridge Encyclopedia tentang evolusi manusia, para editor Jones, Martin, dan Plilbeam mengizinkan bahwa tidak ada bahasa kecuali bahasa manusia; dan kemudian meneruskan mengamati bahwa bahasa adalah suatu adaptasi unik pada manusia, namun keunikannya juga memiliki sifat alami dan basis biologinya adalah sulit untuk digambarkan.
Manusia memiliki dua macam fasilitas untuk berbahasa, yaitu falisiltas fisik berupa organ-organ ujaran yaitu: lidah, mulut, bibir, gigi, hidung, tenggorokan dan sebagainya dan fasilitas non-fisik seperti: ruh, akal pikiran dan rasa yang berfungsi untuk mengolah segala masukan dari atau sekitar. Dalam pikiran terjadi proses pengonsepan segala masukan tadi yang lalu dilahirkan dalam bentuk ujaran dan tulisan.
Manusia dianugrahi kemampuan pembawaan untuk mengerti alam sekitar (dari derajat yang paling rendah sampai derajat yang paling tinggi seperti yang dilakukan pada rasul, nabi, dan ahli pikir). Kadar pemikiran dan penalaran ini sangat mempengaruhi bobot ujaran dan tulisannya baik dalam kualitas maupun kuantitas. Ujaran dan tulisan adalah cermin penalaran dari penutur dan penulisnya, dan bobot ujaran dan tulisan adalah realisasi bobot penalarannya.
Bukti kemampuan pembawaan untuk berbahasa ialah kenyataan bahwa setiap bayi yang dilahirkan hidup mesti menangis. Tangisan pertama inilah bentuk ujaran yang paling sederhana. Tangisan ini di mana pun bayi dilahirkan secara kualitas sama. Artinya, bahwa setiap bayi memiliki bunyi-bunyi dasar yang sama yang akan siap untuk dikembangkan dalam menguasai bahasa apa saja. Dengan demikian, manusia sanggup menguasai lebih dari satu bahasa.
Manusia pertama Adam dianugrahi kedua macam fasilitas di atas. Dia mampu mengerti, merasa dan mengapresiasi segala sifat dan kualitas segala objek atau zat. Termasuk ke dalam objek ini adalah konsep dan nilai. Bahasa pertama Nabi Adam ini diiukuti oleh isteri dan anak-anaknya. Lama- kelamaan anak- anak tersebut menyebar kesegala penjuru dunia. Dengan demikian, bahasa-bahasa yang pertama ini bercabang menjauhi pusatnya. Tumbuhlah variasi-variasi bahasa, muncullah bahasa-bahasa serumpun. Secara tidak disadari bahasa-bahasa ini menghimpun diri dalam suatu masyarakat bergerak menjauhi senteral baik dalam kualitas maupun kuantitas, dan akhirnya memiliki kesejarahan, kegunaan, pemakaian, keunikan, dan keswatantraan tersendiri yang pada perkembangannya terlepas bebas dari bahasa asal tadi, maka tumbulah bahasa-bahasa baru.
Gerakan perkembangan centrifugal bahasa ini seiring dengan laju perkembangan kultur dan peradaban para penuturnya. Para penutur bahasa ini secara tidak disadari menghimpun dari dalam suatu masyarakt ujaran tertentu dan tentunya menyepakati norma-norma kebahasaan bahasa tersebut dan norma sosial secara keseluruhan. Semua penutur mesti mengikuti norma-norma ini. Ditinjaun dari kesepakatan dan kebersamaan mengikuti dan mempertahankan norma-norma bahasa tadi, maka gerak perkembangan bahasa ini adalah satu gerak centripetal.
Singkatnya, manusia pertama (Adam) dianurah langue yaitu konsep kebahasaan dan kemampuan berbahasa, lalu dengan kemampuan ini Adam, dan manusia semuanya mampu mengonsepkan alam sekitar dan konsep-konsep ini dinyatakan dalam ujaran/tulisan atau parole. Parole ini adalah aktualisasi konsep-konsep tadi dan merupakan performace kebahasaannya.

4. Sejarah Perkembangan Bahasa di Dunia

Perkembangan sejarah bahasa dari jaman Yunani Kuno sampai sekarang tidak lepas dari adanya kontroversi. Kontroversi yang pertama sudah ada sejak abad keenam sebelum masehi. Dua kubu yang saling berhadapan saat itu kubu phusis dan kubu thesis. Kubu phusis percaya bahwa ada keterkaitan antara kata dan alam. Keterkaitan antara kata dan alam itu, menurut kubu phusis, bersifat alami dan memang sangat diperlukan. Sebaliknya, kubu thesis percaya bahwa tidak ada keterkaitan antara kata dan alam. Hubungan antara kata dan alam sifatnya arbitrer dan konvensional.
Dalam mempertahankan pendiriannya, kubu phusis mengemukakan beberapa alasan adanya gejala onomatopoeia, yang berarti ‘gema suara alam’, sebagaimana teori ekoik . Maksud kaum phusis ialah bahwa gema suara alam itu dipakai manusia untuk menamakan konsep-konsep kebendaan yang ada di sekelilingnya. Kata-kata dalam bahasa Inggris, sekaligus artinya dalam Bahasa Indonesia misalnya, splash ‘percik’, pick ‘petik’, sway ‘ayun’, dan masih banyak lagi adalah bukti keyakinan para penganut kubu phusis ini.
Gejala onomatopoeia itu berkembang ke arah asosiasi bunyi dan dengan sifat atau keadaan seseorang atau benda. Misalnya, bunyi i dalam Bahasa Indonesia (berkesan) diasosiaskan dengan kecantikan, kemungilan, atau kesucian. Kata-kata melati, suci, murni, dan kebanyakan nama wanita Indonesia, adalah perwujudan dari asosiasi ini.
Selain simbolisme bunyi di atas, pandangan terhadap gema suara alam itu berkembang lagi ke arah asosiasi warna, lagu dengan perasaan. Perkembangan onomatopoeia yang mengasosiakan warna dan lagu dengan perasaan itu sangat bermanfaat dalam sistem pengaturan cahaya, warna kostum lagu-lagu pengiring dalam pementasan seni, drama, dan tari.
Di lain pihak, dalam mempertahankan pendiriannya, kubu thesis mengutarakan bukti-bukti bahwa nama yang diberikan oleh manusia kepada benda-benda di sekitarnya tidak menurut kaidah tertentu, misalnya menurut kaidah asosiasi antara nama benda dengan suara alam. Nama-nama yang diberikan itu hanyalah konvensi antara sesama anggota masyarakat pembicara dari suatu bahasa. Mengapa orang Inggris mengatakan branches of a tree, sementara orang Indonesia menyebut cabang-cabang pohon¸ dan orang Jawa menamakan pange wit, dan dalam bahasa lain disebut lain lagi. Hal semacam itu sama sekali tidak mencerminkan adanya keterkaitan antara nama benda atau konsep dengan gema suara alam.
Kontroversi yang kedua terjadi sekitar abad ke-4 sebelum Masehi antara penganut faham Analogi dan penganut faham Anamoli. Karena tajamnya perbedaan keyakinan antara dua aliran ini, mereka tidak mau tinggal dalam satu kota. Para penganut paham Analogi berpusat di kota Alexandria, sedangkan para penganut paham Anomali lebih suka tinggal di kota Pergamum.
Dalam bidang bahasa, kaum Analogi percaya bahwa bahasa itu tertata menurut aturan yang pasti. Keteraturan bahasa, menurut aliran Analogi, terdapat pada semua aspek: aspek fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Dalam bidang sastra, para anggota kubu Analogi menyarankan agar tujuan karya sastra itu terutama untuk menghibur. Kedua kubu itu menganjurkan agar dipelajari karya-karya sastra (puisi, prosa, maupun drama) pengarang-pengarang terkenal. Pernyataan kedua kubu itu mengandung maksud bahwa para sastrawan bertanggung jawab untuk menjadi model yang baik dalam hal berbahasa yang benar dan dalam hal mengajarkan moral. Kontroversi antara Analogi dan Anomali itu berlanjut sampai sekarang.
Kontroversi yang ketiga timbul pada jaman Renaissance, antara para penganut empirisme dan para penganut nasional. Kaum empiris percaya bahwa jiwa manusia itu mempunyai kemampuan, tetapi tidak tahu banyak tentang kemampuan itu. Mereka menganggap bahwa jiwa manusia itu seperti kertas kosong yang dalam istilah mereka yang sangat terkenal itu sebagai “tabularasa”. Sebelum jiwa manusia melakukan kegiatan, manusia tidak mempunyai apa-apa, ‘jiwa kita ini kosong sebelum ada rangsangan lewat indera kita.’ Dalam masalah bahasa, kaum empiris percaya bahwa bahasa itu dipelajari dari lingkungan sekitar. Jadi, bahasa itu pada hakekatnya, menurut mereka, ‘dipelajari’.
Di pihak lain, kaum rasionalis percaya bahwa segala sesuatu itu dapat dicari rasionalnya, karena tidak mungkin segala sesuatu itu terjadi begitu saja tanpa ada alasannya. Gagasan pokok kaum rasionalis ialah bahwa jiwa manusia itu tidak seperti kertas kosong. Jiwa manusia berbekal pemikiran-pemikiran yang logis.
Dalam masalah bahasa, kaum rasionalis menyangkal bahwa bahasa itu didapat dari lingkungan. Sebaliknya, mereka percaya bahasa itu sudah ada dalam jiwa manusia sebagai pembawaan. Karena pada hakekatnya manusia itu mempunyai bawaan yang universal sifatnya, bahasa pun mempunyai sifat yang universal pula. Di pihak lain, pengikut-pengikut paham empirisme, terutama Johann Gottfried von Herder (1744-1803), percaya bahwa jiwa dan pikrian manusia itu berbeda antara manusia yang satu dengan yang lain, tergantung pada budaya yang melingkunginya. Sebagai konsekuensi, Herder mengungkapkan adanya nasionalisme kebahasaan, dan ia tidak percaya bahwa bahasa itu mempunyai sifat universal.
Holisme yang diterapkan di dalam sejarah perkembangan bahasa melahirkan aliran struktualisme. Kata struktualisme berasal dari bahasa Latin strunctura, yang artinya bangunan. Menurut kaum struktualis, konsep apa pun dapat dihayati sebagai bangunan. Dengan sendirinya, bahasa pun dapat dihayati sebagai bangunan. Menurut konsep ini, bahasa dibangun dari kalimat-kalimat; kalimat dibangun dari klausa-klausa; selanjutnya, klausa dibangun dari frasa-frasa; frasa dibangun dari kata-kata; kata dibangun dari morfem-morfem; dan akhirnya, morfem dibangun dari fonem. Tidaklah mengherankan jika gramatika yang diperkenalkan oleh aliran struktualisme itu terbatas pada gramatika struktur frasa.
Chomsky berpendapat bahwa dalam masalah bahasa, kaum strukturalis mengacu pada kerangka pikir keperilakuan. Padahal, bahasa manusia itu sangat rumit, tidak sesederhana seperti yang diperkirakan oleh para penganut struktualisme. Selanjutnya, sarjana ini mengatakan bahwa jiwa kita ingin memahami bagaimana bahasa dikuasai dan dipergunakan oleh manusia, harus dipisahkan sistem kognitif secara tersendiri, suatu sistem pengetahuan dan keyakinan yang berkembang sejak anak-anak, yang telah berinteraksi dengan faktor-faktor lain, untuk menentukan jenis perilaku kebahasaan yang dapat diamati. Dalam istilah linguistik, Chomsky menggunakan istilah kompetensi, yaitu yang mendasari itu tidak didasari oleh manusia. Dari konsep ini dapat dimengerti bahwa bahasa itu bukan learned¸ melainkan innate.
Di Indonesia kontroversi antara kelompok yang percaya bahasa itu mempunyai fungsi transaksional dan kelompok yang percaya bahwa bahasa itu berfungsi interaksional. Bagi para penganut transaksional, fungsi bahasa yang penting ialah daya penyampai pesan yang terkandung dalam kalimat atau ujaran. Kelompok ini percaya bahwa satuan bahasa yang terkecil ialah kalimat, sebab kalimat itu berisi pesan yang dianggap lengkap. Siapa yang menerima pesan tidaklah penting. Agar pesan dapat diterima haruslah jelas, seperti jelasnya kalimat yang diciptakan oleh seorang penutur yang ideal, tanpa cela.

C. Simpulan

1. Beberapa teori tradisional tentang awal mula timbulnya bahasa adalah: a) Teori Tekanan Sosial, b) Teori Onomatopetik atau Ekoik, c) Teori Iterjeksi, d) Teori Nativistik atau Tipe Fonetik, e) Teori Yo-He-Ho, f) Teori Isyarat, dan g) Teori Permainan Vokal.

2. Nenek moyang yang disebut Cro magnon ini tinggal di gua-gua. Ketika mereka belum mampu bserbahasa verbal, mereka berkomunikasi lewat gambar-gambar yang mereka buat pada tulang, tanduk, cadas, dan dinding gua yang banyak ditemukan di Spanyol dan Prancis Selatan. Mereka menggambarkan bison, rusa kutub, dan mamalia lainnya yang mereka buru. Inilah sarana pertama yang dikenal manusia untuk merekam informasi. Kemudian antara 40.000 dan 35.000 tahun lalu Cro Magnon mulai menggunakan bahasa lisan. Ini dimungkingkan karena mereka punya struktur tengkorak, lidah, dan kotak suara yang mirip dengan yang dimiliki sekarang. Kemampuan berbahasa inilah yang membuat mereka terus bertahan hingga kini, tidak seperti makhluk mirip manusia sebelumnya yang musnah.

3. Manusia diciptakan dengan perlengkapan fisik secara sempurna hingga memungkinkan terlahirnya ujaran. Fred West mengemukakan bahwa ,” ujar seperti halnya bahasa, adalah hasil kemampuan manusia untuk melihat gejala-gejala sebagai simbol-simbol dan keinginannya untuk mengungkapkan simbol-simbol itu.

4. Perkembangan sejarah bahasa dari jaman Yunani Kuno sampai sekarang tidak lepas dari adanya kontroversi. Kontroversi yang pertama sudah ada sejak abad keenam sebelum masehi. Dua kubu yang saling berhadapan saat itu kubu phusis dan kubu thesis. Kontroversi yang kedua terjadi sekitar abad ke-4 sebelum Masehi antara penganut faham Analogi dan penganut faham Anamoli. Kontroversi yang ketiga timbul pada jaman Renaissance, antara para penganut empirisme dan para penganut nasional.


D. Daftar Pustaka

Jespersen, Otto. 1941. Efficiency in Linguistic Change. Det Kgl. Danske Videnskabernes Selskab. Hist-fil. Meddelelser.
Jespersen, Otto. 1964. Language. Its Nature. Development and Origin. New York: Norton.
Keraf, Gorys. 1996. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: Gramedia.
Lefevre, Andre. 1894. Race and Language. New York: Appleton-Contury-Crofts.
Muller, Friedrich Max. 1891. The Science of Language. New York: Charles Seribner’s Sons.
Sapir, Edward. 1949. Language. New York: Harcourt, Brace and Company.
Whitney, W.D. 1874. Life and Growth of Language. New York.
Wundt, Wilhelm. 1907. Outline of Psichology. Leipaig: Kroner.

1 comment:

  1. bagaimana sejarah teori asal mula bahasa onomatopetik?

    ReplyDelete